Happy Birthday to me!

Yep. Today is my birthday.

Nothing special just be one year older. No party, candles or cake for celebrating my birth day.

I’m celebrating it with my little fairy, send most of our time playing together on the bed – though I was almost loose my patience because she won’t sleep at all.

But finally, after lots and loud cry she made, melting my heart for another hours of play.

 

Now, as I’m writing my entry, she is sleeping like a baby on her side.

Ahh, my little fairy has grown up, 7 kilo now!!!

 

About my birthday, no special gift/presents.

First wish came from hubby at midnight as we’re talking. Secondly from my brother who called me up in the morning, and before the midday I have my 3rdwishes from my good friend Krish. Thanks a lot for the call! And few hours ago, my former classmate which is one of my good friends too calls up! It’s a surprise – considering I haven’t spoke with him since months or probably a year. So we have long conversation on the phone, babbling about our lives, the other classmates and etc.

 

And before I’m closing this day who else will wish me birthday?

Wondering if a best friend of mine forgets about my ‘special’ day. Are you?

 

 

Sonya/Sonja… Where are you?

Pusing, mumet! Udah dicari kemana-mana ‘ndak ketemu juga. Google dah diubek-ubek tapi ‘ntah kemana dia. Walau cuma baru dengar beberapa kali, tapi ik dah jatuh cinta ‘ma tuh lagi. Eh tapi nggak tau sapa yang nyanyiin. Lagunya sih lagu jadul… yang tau cuma judulnya ‘Sonya’ atau ‘Sonja’ ntah mana yang bener.

Yang pasti, itu bukan lagu bahasa Inggris, lagunya bahasa Jerman. Liriknya ada nyangkut-nyangkut … ‘ik liebe sonya/sonja’… ‘waarom…’ terusannya nggak tau lagi :d

Ada yang tau nggak sih?

It’s raining days!

Again, rain pouring down. Brings a lot of memories back into my mind.
The ‘wet accident’ I had with Ayunda, back to the school days. The pangsit soup, wet clothes and sockS while we had to attend a class which given by our strict teacher. The funny moment when we attended it without sock on and we sat on the back row so the teacher can’t see our bare feet and wet cloth.
It’s one of rain memorable story.

Ofcourse I have much more; those I have with my husband.
Some is nice, some is silly, but all are lovely.

But tonight, like the other nights which I spent alone.
Tonight the rain brings lonely feeling inside me.
There’s no warm embrace neither comfort hug.
No lovely speak or goodnight kiss.

But, like those other nights
I’ll keep my heart warm with the memories we have.

Ulah si Ayam

Cerita bermula ketika aku sedang menidurkan si mbak.
Belum lelap ia tertidur, tiba-tiba suara ayam berkokok di siang bolong membangunkannya. Sontak, dia pun menangis; ‘ntah karena suara si ayam tersebut atau karena ia belum lelap tertidur dan kaget mendengar kokokan si ayam atau karena dia bermimpi. Apapun juga alasan, namun kokokan si ayamlah yang membangunkan anakku dan membuatnya menangis tersedu. Aku-pun yang hampir tertidur, refleks terbangun mencoba menenangkannya dan menidurkannya kembali.

Apa lacur, anakku sudah kadung tidak enak hati karena ulah si ayam tadi. Bukannya berhenti menangis, malah tangisannya semakin keras dan terdengar menyedihkan. Memang si mbak jarang menangis seperti itu, bahkan boleh dibilang tidak pernah. Biasanya sih tangisannya - tangisan marah, bukan terdengar sedih seperti itu. Budeku yang sedang masak di dapur pun bergegas ke kamar untuk melihat apa yang terjadi dengan si mbak. Dengan sigap, si bude menyuruhku untuk membangunkan si mbak yang masih setengah sadar - namun tetap menangis, agar bisa ditenangkan.
Akhirnya, si mbak malah senyum-senyum dan berhenti menangis.

Tangisan si mbak kali ini memang lain, karena ia mengeluarkan air mata. Biasanya… uihh tak setetespun, yah maklum saja, dia menangis bukan karena sakit, namun karena marah.

Si bude pun berinisiatif untuk menggendong si mbak ke luar, dengan maksud untuk menunjukkan pada si mbak bahwa mbak tidak perlu takut pada si ayam. Karena si mbak kelihatannya masih mengantuk, aku mengambil alih untuk membawanya kembali ke kamar dan menidurkannya.

Setelah beberapa saat, dan hampir berhasil… ehhh lagi-lagi si ayam membuat ulah. Sekali lagi ia berkokok dan sekali lagi si mbak terbangun dan menangis. Karena sebal ‘nd kesal dengan ulah si ayam yang membuat usahaku untuk menidurkan si mbak gagal total. Segera ‘ku keluar untuk mencari dimanakah ayam-ayam sialan itu berada. Setelah ‘ku temukan, kontan ‘ku lempari dengan krikil hingga mereka ngacir.

Walaupun si ayam sudah menghilang, namun apa daya, terlambat sudah untuk menidurkan si mbak. Sia-sia sudah usahaku. Ia tidak ingin tidur lagi sementara aku masih mengantuk. Yah sudah, gara-gara si ayam, terganggu sudah tidur siangku dan juga si mbak.Dan yang lebih parahnya lagi, sore ini si mbak sedikit demam.

Mungkinkah itu karena ulah si ayam?

Lost Innocence

What do you see on this picture?

What do you see on this picture?

This is a test to determine what kind of mind do you have when you see the picture above.

Research has shown that young children cannot identify the intimate couple because they do not have prior memory associated with such scenario. What they will see are the dolphins. I wonder if you can see those dolphins and how many they are. Let me know!

Beginning

This is my first entry. More to come ;)